_________________________________________________________ "hal yang tidak penting, tabu, dan layak untuk diperbincangkan"



Hari-hari gue penuh dengan kesibukan, kesibukan, kesibukan, dan tidur.  Ketika mereka asyik nongkrong bareng temen, jalan bareng pacar, atau jalan sama pacar terus nongkrong bareng temen-temen, gue isi hari-hari gue dengan kerja, kerja, kerja dan tidur.
Ada beberapa alasan kenapa gue lakuin ini.
Pertama, gue Jomblo.
Kedua, gue gak punya pacar.
Ketiga, gue single.
Dan yang keempat, gue gak mau mikirin masa lalu gue.
Maksud gue gini, ketika kita mengalami pressure yang menyakitkan di masa lalu (apa sih?) ketika loe putus dengan mengenaskan, ketika cinta loe bertepuk sebelah tangan, ketika loe hanya dijadiin pelampiasan, loe akan mengalami yang namanya “siaran tunda” di memori otak loe.
Dan saat loe sudah nonton itu di memori otak loe, loe akan lebih banyak menghabiskan waktu loe untuk melamun, pasif, dan bergalau ria. Mungkin salah satu aktivitas rutin yang loe lakuin tiap waktu adalah update status di Sosial Media. Berharap ada yang perhatian sama loe atau setidaknya ada yang ngertiin perasaan loe saat ini. Tapi sampai kapan loe harus hidup dalam ke-pasif-an oleh masa lalu loe?
Gue akui emang gak mudah untuk keluar dari ingatan masa lalu. Jangankan untuk lari dari itu, melangkah untuk berjalanpun terasa berat.
Salah satu cara gue untuk lupa dari semua itu adalah kesibukan, kesibukan, kesibukan, kemudian kita tackling. Oh bukan itu. Tidur.
Hasilnya positif. Akurasinya 75% hingga 85% pada skala kesibukan sekitar 18 jam sibuk + 4 jam tidur dalam 24 jam setiap hari. Dan sisanya 2 jam bisa kita gunakan untuk istirahat atau main game. 18 jam kerja itu sudah termasuk makan, minum, ibadah, dan komunikasi dengan orang di sekitar. O iya itu juga termasuk untuk ke kamar mandi.
Dengan statistika yang gue buat tadi, gue bisa lupain apa yang gue alami di masa lalu. Dan yang jelas dompet gue enggak pernah “sepi” sama gambar-gambar Ir. Soekarno dan Bung Hatta, yah walaupun mereka hanya bertahan paling lama 3 hari, tapi dompet gue rutin “dikunjungi” oleh I Gusti Ngurah Rai dan Oto Iskandar Di Nata.
Gue ngerasa berhasil. Yah setidaknya berhasil untuk mengalihkan ingatan gue ke masa lalu dan berhasil ngisi dompet gue sendiri.
Tapi di balik keberhasilan gue, sebenernya gue udah GAGAL. Bahkan lebih parah dari mereka yang GAGAL MOVE ON terus bunuh diri.
Iyah, gue GAGAL.
Gue gagal dalam hal bertanggungjawab atas diri gue sendiri terhadap Tuhan, gue selalu mengabaikan kesehatan, gue gak pernah peduli dengan kondisi tubuh gue, gue cuman kasih waktu 4 jam dalam sehari ke tubuh gue untuk berhenti menjalankan fungsinya. Dan saat gue tidur pun jantung gue gak berhenti berfungsi, paru-paru gue gak berhenti kembang-kempis. Kesimpulannya adalah mereka tidak pernah istirahat 1X24 jam. Tuhan ngasih ke gue tubuh dengan segala fungsinya untuk gue jaga dan gunakan. Tapi kenyataannya gue suruh mereka “kerja paksa” hanya untuk ke egoisan gue yang pengen lupain masa lalu gue yang gue rasa pahit. Padahal masa lalu yang buruk juga bagian termanis dalam hidup. Kita tidak bisa menjadi lebih baik tanpa ada hal buruk yang kita alami.
Dan ada satu hal lagi yang gue rasa GAGAL. Yaitu kodrat gue sebagai makhluk sosial.
Gue terlalu sibuk mencari kesibukan sehingga gue “lupa” bahwa gue adalah makhluk sosial, gue masih punya Orang tua, Keluarga, Sahabat, dan mereka yang seharusnya gue perhatikan, atau setidaknya mengucapkan “hallo, apa kabar?” kepada mereka.
Gue lupa. Oh bukan lupa lebih tepatnya, gue inget mereka tapi gue gak pernah meluangkan sedikit waktu gue untuk mengucapkan “hallo, apa kabar?”  sama mereka.
Gue nggak sadar betapa pentingnya mereka bagi gue. Lebih dari mereka yang membuat masa lalu gue terasa pahit.
Akhirnya gue sadar satu hal. Hal pahit di masa lalu akan membuat banyak hal pahit yang lebih besar di masa depan jika kita tidak bersyukur atas hal pahit itu.
Sehrusnya kita berterima kasih kepada mereka yang udah menorehkan kisah pahit dalam hidup kita. Karena mereka, kita belajar banyak hal.



Di sepanjang gang maupun jalanan udah mulai ramai, umbul-umbul  atau aksesoris lain yang didominasi oleh warna merah dan putih khas tujuh-belasan sudah  melambai-lambai mirip waria ganjen dipinggiran jalan.
Suasana tujuh-belasan sudah mulai terasa, berbagai kegitan dan lomba yang diadakan warga sudah banyak digelar. Ramai, meriah, penuh suka cita. Ya beginilah Indonesia menjelang hari kemerdekaannya, selalu ramai dan yang pasti banyak jalan/gang di kampung gue ditutup buat kegiatan. Alkisah, kalo mau pulang ke rumah muter-muter dulu kayak kipas angin yang baru aja dimatiin.
Gue inget banget waktu SD gue pernah juara lomba balap karung (bangga). Juara III. *jiaaahh!!!* Gue banggga karena itu pertama dan terakhir kalinya gue dapet juara lomba tujuh-belasan.
Tapi satu hal yang gue gak ngerti, kenapa dari dulu sampai sekarang lombanya ya itu-itu aja. Lomba balap karung, makan kerupuk, panjat pinang, mungkin kalau ada yang terbaru ya lomba joget ala Caesar. Apapun itu yang jelas keakraban antar warga/masyarakat jadi terasa lebih dekat. Suasana ini kayaknya gak berlaku bagi mereka yang Jomblo, Galau, gak bisa Move On, atau Jomblo Galau karena gak bisa Move On. Mungkin mereka berharap akan ada lomba khusus Jomblo yang gak bisa Move On kayak: Lomba Makan Ati, Lomba Lari dari Kenyataan, Lomba Panjat Doa biar dapet pacar, atau Lomba masukin pensil ke ke dalam pantat pacarnya mantan. (hah apa sih?!)

Gue bangga jadi orang Indonesia. Saking bangganya, di KTP gue warga negara gue Indonesia. Gue berharap di usia ke 69 tahun ini negara gue jadi negara yang makmur, gak ada lagi kekerasan, gak ada lagi kerusuhan, gak ada lagi kemiskinan, gak ada lagi pengangguran, gak ada lagi korupsi, dan yang jelas gak ada lagi
pemuda-pemudi Indonesia yang Jomblo, yang suka update status galau di sosial media. Mau jadi apa negara kita kalau pemudanya banyak yang galau? *cieeeeh*

Galau boleh, asal kita tidak diam dalam kesedihan, banyak hal positif yang bisa kita lakukan. Kayak emak gue. Emak gue kalau lagi galau itu aktif, positif, dan inovatif. Suka bersih-bersih rumah, nyapu, ngepel, cuci baju, cuci piring, kalau gak ada piring yang kotor, dikotorin dulu baru dicuci. Makanya tetangga gue seneng kalau emak gue lagi galau. Pasti disuruh datang ke rumah. Kok jadi ngomongin emak gue???

Yang jelas, Selamat Ulang Tahun Negaraku...

Kau Ibu Pertiwiku, jangan galau karena  Bapak Pertiwi yang tak tahu entah kemana...

Semoga Tuhan memberi yang terbaik untuk mu dan kami yang menginjakan kaki di atasmu...

Yang ku beri bukan jam dan cincin, atau pusisi juga kalung hati, maaf... bukannya pelit cuman bingung tar mau lu taruh dimana tu barang.



Hai, udah cukup lama gue (ciee pakek “gue”) gak otak-atik nih blog. Kasian, ibarat rumah nih blog gak pernah disapu, dipel, ditidurin (istri kale) dan gak pernah dimandiin (lho?)
Gue bingung nulis di blog, pakek pulpen, spidol, bahkan pensil 2b faber kastel pun gak bisa, malah layar laptop gue kayak hati gue acak-acakan. Nah... ngomongin soal hati, gue lagi galau (biar kayak ABG jaman sekarang getoh). Gue putus  (huuuuw...) berat sih, sedih jugak. But i am not the only one (apa sih?) yah setidaknya gue gak sendiri, setidaknya para Jomblo di dunia punya temen baru yaitu gue.
Banyak hal yang terjadi setelah kita putus sama pacar kita, misalnya ketika kita makan siang di tempat biasa kita makan berdua ada perubahan yang sangat mencolok yaitu yang biasanya makan dibayarin pacar sekarang harus bayar sendiri (dasar!) nggak becanda kok, tapi serius. Yang biasanya suap-suapan sama pacar, sekarang? Suap-suapan sama temen (cowok lagi) “aaa..aa..pesawatnya mau masuk goa buruan buka mulutnya...aaaeeemmm”.
Dan ada hal-hal yang gak pengen kita rasain tapi maksa harus kita rasain. Yah, Jomblo.
Tapi gue gak mau disebut “jomblo”, gue lebih suka disebut “single”. Soalnya kalo ditanya orang jawabnya enak, “Lu single udah berapa lama?”
“yah kurang lebih 3 atau 4 bulan”
“gak bosen apa tiap bulan single terus?”
“agak bosen sih, makanya bulan depan mau buat Album”
Galau membuat gue jadi sering dengerin lagu-lagu mellow. Tapi gak jarang juga dengerin lagu yang ngingetin kita sama mantan.
Kayak lagu “gugur bunga” atau yang satu ini, ehemm... do... do... ok, dariii yakiiin kuuu teguuuhh....”
Tapi gue move on kok, kata orang kalo mau move on jangan nyimpen foto mantan di HP. Gue gak pernah nyimpen foto mantan di HP, gue nyimpen di dompet (sama ajaa!!!)
Hal yang gue sesalkan adalah gue gak peka, gue gak memberi ruang yang nyaman ketika dia butuh tempat beristirahat, sehingga dia terpaksa untuk mencari ruang yang lebih luas dan nyaman.
(backsound: aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi...) Kok jadi mellow gini yah?
Dari peristiwa yang gue alami dan gak pernah gue lupain ini muncul satu pertanyaan.
Kira-kira Tinky Winky itu laki-laki apa perempuan yah?
 http://blog.reidreport.com/wp-content/uploads/2013/12/tinky-winky.jpgGue baca di sini

Si Tutit

0 Comments Diposkan oleh Eddy Tvllankz Kamis, 28 November 2013 di 00.16



Kalo gw pikir-pikir, gw gak punya rasa prikehewanan coba kalian liat Burung Putih yang mondar-mandir cari perhatian di blog gw (gw beri nama “Tutit”). Kasian doi kesepian, jahat ya gw… harusnya gw kasih pasangan buat doi. Tapi, apalah mau dikata jika Blogger tidak mengijinkan.
Tutit ini berjenis kelamin Pria, kenapa gw kasih nama “Tutit”? yah soalnya doi suka “nguntit” alias suka ngikut ke mana-mana kalo lu buka blog gw.
Tapi doi ini piaraan yang paling setia, doi gak pernah selingkuh (yaiyalah Jomblo), doi gak mau pindah ke blog sebelah (kalaupun ada, itu KW-nya), dan doi tetep jagain blog gw saat gw tinggalin.
Makasih ya Tit udah setia ma akuhh…. Akuh janji bakal kasih temen buat kamuhh….

November 16/2013 bertempat di Garden Palace Hotel Surabaya. Acara di mulai pukul 13.00 WIB. Hari itu adalah hari yang tak terlupakan (mungkin) bagi saya. Bukan karena pada hari itu adalah hari di mana saya akan Wisuda, melainkan hari penuh lika-liku menuju Wisuda.
Ok, jadi gini ceritanya...#Auuuuuww.... Waktu aku bangun jam sudah menunjukan pukul 09.00 pagi. Aku buat secangkir kopi dan aku nikmati sendiri tanpa basa basi aku pergi ke kamar mandi sambil bernyanyi ala Syahrini.

Scene One:
Habis mandi, dandan, tapi gak sarapan langsung capcus jemput Ibu di Salon. Ku pacu sepeda motorku, jarum jam tak mau menunggu, maklum demi Ibu. Sial macet, di tengah perjalanan hujan deras oh sh*t ! gak bawa jas hujan atau bahasa Sepanyol-nya "mantel". Alhasil, basah deh... make-up luntyuuurr cyiintt...

Scene Two:
Sudah sampai, eh belum selesai juga dandanya? oh My God, nunggu. tik tok tik tok tik tok dalam keaadaan basyah akhirnya selesai juga. Gerimis masih mengundang Taksi sudah datang, liat jam... Astaga sudah jam satu?! berangkat cepat !!! Macet.

Scene Theree:
Setelah melawan macet dan dingin, akhirnya sampai juga di tempat tujuan. Langsung berlari kecil menuju lantai 3, syukurlah saya tidak sendiri, saya ditemani seorang gadis dengan kebaya dan tidak tau siapa namanya. Ah sudah lupakan. Sampai di pintu masuk saya disambut Adisty yang dipoles dengan make-up sampai saya tidak mengenalinya dan saya dibantu mengenakan baju Toga, yah maklum sampai lupa memakainya. Oea satu lagi, saya mendapat sambutan yang hangat dan guaple'i dari teman saya Reza hahaha...

Scene Four;
Saat saya masuk ruangan, semua hadirin sudah berdiri dan menyanyikan lagu...entahlah, saya tidak mendengarkan. Mata saya terus "jelalatan" mencari kursi nomor 55, dengan sedikit tidak sopan saya menerobos barisan seperti tanpa dosa. Ah... akhirnya ketemu juga (yeeeeeee :))

Scene Five:
Saat Upacara berlangsung, badan saya bergetar seperti jam wekker dingin seperti di kulkas, wah sepertinya saya masuk angin, badan menggigil atau dalam bahasa Belanda-nya "kathu'en". Untunglah ada Perawat yang langsung memberikan "perawatan" kepada saya. Saat saya naik ke atas "panggung" saya sudah tidak "bergetar" lagi, prosesi berjalan dengan lancar. Tapi ada satu hal yang membuat saya gelisah sejak awal duduk hingga akhir acara, saya tidak tahu di mana Ibu saya.

Scene Six:
Acara selesai.

Ada hal yang menggembirakan dan menyedihkan di balik itu semua. Saya bahagia karena saya bisa ikut Wisuda dengan Sahabat dan Saudara-saudara saya walau sedikit datang terlambat. Saya juga bahagia karena bisa bertemu dengan orang tua mereka, terutama orang tua Saudara saya Erwin Dwi Yono, tapi saya sedih karena...:( acara Wisuda saya tidak dihadiri orang yang saya harapkan kehadirannya. Dia tidak dapat hadir karena keluargnya mendapat musibah dan itu semakin membuat saya bersedih, semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran, amin...
Hal yang menyedihkan lagi, saya tidak sempat mengabadikan momen ini bersama Sahabat-sahabat saya. Maaf waktu dan keadaan sedikit tidak bersahabat.
Tapi apapun itu saya berterimakasih kepada Allah SWT yang memberikan nikmat-Nya tiada tara. Kepada Ibu saya I am sorry Mom, I can't make you happy. My Longor, You are my everything. Keluarga dan Sahabat-sahabat saya, kalian luarrr biassaaaa..... :D

Jangan diliat malu +__+




My Brother



Air Mata

0 Comments Diposkan oleh Eddy Tvllankz Sabtu, 16 November 2013 di 11.22


Terkadang manusia juga harus menangis, entah pria atau wanita. Entah ketika sedih atau bahagia. Yang jelas semua manusia pasti menangis. "menangislah bila harus menangis karena kita semua manusia". Yah lagu Dewa 19 ini mengungkap bahwasanya manusia itu lumrah untuk menangis. Jangan malu walaupun badan kekar, penuh tatto, rambut gondrong, tindik di mana-mana bukan berarti tidak boleh menangis.

Ilustration
Menangis itu mengeluarkan air mata dan itu dapat membersihkan mata dari kotoran atau debu dan masih banyak manfaat air mata lainnya. Dalam website answersingenesis, penulis artikel Jerry Bergman mengatakan bahwa air mata itu adalah salah satu dari banyak mujizat yang bekerja begitu baik tetapi sayangnya kita terlalu menganggapnya hal yang biasa. Air mata atau menangis itu memiliki banyak manfaat baik secara fisiologis, psikologis maupun spiritual.
Yuk kita nangis?! satu.. dua... tiga...

Tuhan tidak menciptakan sesuatu yang tidak bermanfaat. Coba kita berpikir, apa yang tidak ada manfaatnya di dunia ini? Sekalipun bergunjing itu tidak ada manfaatnya sedikitpun, tapi bagi saya (mungkin juga yang lain) ada manfaatnya. Ketika kita bergunjing atau membicarakan aib orang lain, kita akan mengoreksi pribadi masing-masing. Atau dengan kata lain mengevaluasi diri. Ini berlaku untuk mereka yang sadar rohaninya. Tapi bagi mereka yang merasa puas ketika membicarakan aib orang lain demi kesenangan belaka, itu pribadi yang tidak sehat. 

Bagaimana manfaatnya sesuatu itu tergantung bagaimana rasa syukur kita terhadap-Nya. Menurut saya semakin besar rasa syukur kita, maka semakin besar pula manfaat yang diperoleh.
Mungkin saja saya salah, tapi ini pemikiran saya.